Saturday, February 21, 2026

Quietly Stepping Away

At 35, when the storms in romance have settled, the real tests begin in friendship.

Sometimes the thought creeps in when everything is quiet: What if i'm just hard to be friends with? What if i don't bring any value anymore? Why does it feel so difficult to hold on to old friends, yet just as hard to find new ones?

Maybe i'm no longer the easy one, the flexible one, the one who keeps the energy going. But, is it unrealistic to long for friendships that feel truly genuine?

I miss friendships that feel safe.

The kind where i don't have to measure my words. Where i don't feel compared. Where success isn't a competition. Where vulnerability isn't gossip. When an invitation to meet up isn’t just courtesy, but intention.

I was tired.

So i chose to archive (and even left) some group chats, mute and hide stories, stop showing up as much, slowly stepped back from some people.

Not because i hate them, but because i needed to stop hurting myself in invisible ways.

I don't want to keep waiting for invitations. I don't want to keep hoping to be remembered. I don’t want my invitations to be turned down while secretly hoping for a different one in return.

Maybe it looks like i disappeared.

But really, i’m learning how to stay with myself.

There’s still sadness, but there’s relief too.

Tuesday, January 6, 2026

Kembali, dengan Cara yang Berbeda

Hai 2026.

Hai kamu yang mampir ke tulisan ini.

Sejak akhir November lalu, saya kembali bekerja setelah hiatus tiga tahun. Bukan sekadar kembali ke rutinitas, tapi kembali ke versi diri yang dulu sempat saya tinggalkan. Rasanya tetap nano nano, tapi kali ini dengan kesadaran yang berbeda.

Saya menyadari satu hal: saya berubah.

Bukan jadi kebal, tapi lebih tenang.

Bukan jadi cuek, tapi lebih selektif terhadap apa yang layak menguras energi.

Sekarang saya hanya benar-benar fokus pada hal-hal yang bisa saya kontrol. Sisanya saya lepaskan, bukan karena menyerah, tapi karena sadar: tidak semua hal perlu dimenangkan. Saya masih ingin bertumbuh, masih ingin berkarya dengan serius, masih ingin punya portofolio yang saya banggakan. Tapi di luar itu, saya tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun secara berlebihan.

Cara saya bekerja pun terasa berbeda. Proses crafting kini terasa seperti bermain game. Tantangan bukan ancaman, tapi undangan untuk naik level. Saya menikmati eksplorasi, menerima masukan dengan hati terbuka: yang membangun saya simpan, yang tidak membangun saya biarkan lewat. Bahkan ketika hasil kerja harus dipotong, diubah, atau disederhanakan, saya bisa menerimanya dengan empati, bukan dengan perlawanan batin.

Yang paling terasa hilang adalah kebiasaan lama: menekan perasaan, memendam kesal, lalu meledak dalam silent tantrum yang tak terdengar siapa pun. Pola itu pelan-pelan pergi, seiring saya belajar berdamai dengan proses, dengan orang lain, dan ternyata yang paling penting, dengan diri sendiri.

Saya sempat bertanya-tanya.

Apakah ini buah dari istirahat tiga tahun?

Apakah ini hasil dari character development selama menjadi ibu?

Atau sesederhana: hidup memaksa saya tumbuh karena saya harus bertahan?

Entahlah. Mungkin semuanya benar, dalam porsi masing-masing.

Yang saya tahu, saya sudah tidak lagi jahat terhadap diri saya sendiri. Luka inner child yang dulu menggerogoti tanpa saya sadari, kini perlahan, dengan sadar, saya obati. I have much more respect for myself.

Dan harapan saya sederhana: 

Semoga di lingkungan mana pun saya berada, dalam situasi apa pun yang saya hadapi, versi diri saya yang ini tetap bertahan. Tetap memimpin.

Karena hidup dengan versi ini bukan hanya terasa lebih tenang, tapi juga membuat saya merasa berarti, dan cukup berani untuk melangkah maju kembali.

Saya yang dulu hobi berlari takut tertinggal sambil gelisah tengok kanan kiri, sekarang lagi berjalan santai dengan mindful sambil menikmati perjalanan.