Tuesday, January 6, 2026

Kembali, dengan Cara yang Berbeda

Hai 2026.

Hai kamu yang mampir ke tulisan ini.

Sejak akhir November lalu, saya kembali bekerja setelah hiatus tiga tahun. Bukan sekadar kembali ke rutinitas, tapi kembali ke versi diri yang dulu sempat saya tinggalkan. Rasanya tetap nano nano, tapi kali ini dengan kesadaran yang berbeda.

Saya menyadari satu hal: saya berubah.

Bukan jadi kebal, tapi lebih tenang.

Bukan jadi cuek, tapi lebih selektif terhadap apa yang layak menguras energi.

Sekarang saya hanya benar-benar fokus pada hal-hal yang bisa saya kontrol. Sisanya saya lepaskan, bukan karena menyerah, tapi karena sadar: tidak semua hal perlu dimenangkan. Saya masih ingin bertumbuh, masih ingin berkarya dengan serius, masih ingin punya portofolio yang saya banggakan. Tapi di luar itu, saya tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun secara berlebihan.

Cara saya bekerja pun terasa berbeda. Proses crafting kini terasa seperti bermain game. Tantangan bukan ancaman, tapi undangan untuk naik level. Saya menikmati eksplorasi, menerima masukan dengan hati terbuka: yang membangun saya simpan, yang tidak membangun saya biarkan lewat. Bahkan ketika hasil kerja harus dipotong, diubah, atau disederhanakan, saya bisa menerimanya dengan empati, bukan dengan perlawanan batin.

Yang paling terasa hilang adalah kebiasaan lama: menekan perasaan, memendam kesal, lalu meledak dalam silent tantrum yang tak terdengar siapa pun. Pola itu pelan-pelan pergi, seiring saya belajar berdamai dengan proses, dengan orang lain, dan ternyata yang paling penting, dengan diri sendiri.

Saya sempat bertanya-tanya.

Apakah ini buah dari istirahat tiga tahun?

Apakah ini hasil dari character development selama menjadi ibu?

Atau sesederhana: hidup memaksa saya tumbuh karena saya harus bertahan?

Entahlah. Mungkin semuanya benar, dalam porsi masing-masing.

Yang saya tahu, saya sudah tidak lagi jahat terhadap diri saya sendiri. Luka inner child yang dulu menggerogoti tanpa saya sadari, kini perlahan, dengan sadar, saya obati. I have much more respect for myself.

Dan harapan saya sederhana: 

Semoga di lingkungan mana pun saya berada, dalam situasi apa pun yang saya hadapi, versi diri saya yang ini tetap bertahan. Tetap memimpin.

Karena hidup dengan versi ini bukan hanya terasa lebih tenang, tapi juga membuat saya merasa berarti, dan cukup berani untuk melangkah maju kembali.

Saya yang dulu hobi berlari takut tertinggal sambil gelisah tengok kanan kiri, sekarang lagi berjalan santai dengan mindful sambil menikmati perjalanan.

Wednesday, November 5, 2025

A Season of Uncertainty

Pic source: here

Hey, life’s been a little different lately. In our house with a 20-year mortgage, there are two unemployed people... uhm well, if you don’t count the toddler. My mind’s been extra busy these days, wandering all over the place. What’s gonna happen to our future? How long is this uncertainty gonna stick around? And, why do the job offers that come in pay so much less for the same role and responsibilities as before? I seriously feel like swearing at the regime. I don’t need those 19-million padel courts, really.

It’s not like we’ve been doing nothing, though. My husband and I have been working every day on building something: an app that we hope will not only become part of our portfolio but also bring in income someday. Not only an app actually, perhaps some apps? My husband’s a talented programmer, I’m a passionate designer, and we have a new helpful friend named AI. A pretty good match, right? 🥲 

At first, it felt exciting because of spending more quality time together, feeling empowered because I got to dive back into the design rituals I’ve always loved (without any pressure from bosses or peers), and all those beautiful hopes that come with fresh ideas during our brainstorming sessions.

But whenever things go quiet, that uneasiness creeps back in. Uneasy about the uncertainty. Uneasy about the drastically changing cash flow. Uneasy about the lifestyle we have no choice but to scale down for now.

I keep reminding myself that this uncertain season might actually be teaching us something. Maybe it’s patience. Maybe it’s persistence. Or maybe it’s just learning how to keep showing up, even when nothing feels certain yet.

Still, in between the chaos and calm, there are tiny moments that keep me grounded, like the sound of my daughter’s laughter echoing through the house, the taste of ice coffee in the morning, the quiet hum of the fan when everything else feels too heavy. Maybe that’s what this season is really about: learning to find peace in the in-betweens.

I don’t know what’s waiting on the other side of all this. But I do know that we’re trying. We’re building, we’re hoping, and we’re still here, together. And maybe, for now, that’s enough.

After all, we are trying our best, so wish me luck that I can keep seeing things with hope. I believe Allah is the best scriptwriter. I believe my husband and I are the best, most solid team, both in facing this season and creating something meaningful together.

This too shall bloom. This too shall bloom.

Tuesday, September 30, 2025

Woi Penonton!

Tidak semua cerita ingin dibagikan.
Tidak semua kabar kurang baik mudah diceritakan.
Kadang ada hal-hal yang lebih tenang bila disimpan saja,
dirawat dalam hati, dipeluk dalam diam.

Hari ini, cerita itu tanpa sengaja sampai pada seseorang.

Padahal kami sedang mencoba merasa baik-baik saja.
Belajar berdiri di atas pijakan yang rapuh,
membangun kekuatan dari pengalaman lampau yang mengajarkan banyak hal.
Kami sedang sibuk merangkai hikmah,
mencari makna dari segala kejutan yang datang tiba-tiba.
Kami sedang menyicil solusi,
meski kepala seringkali berdenyut mengingatkan batas diri.
Kami berusaha berdamai dengan keadaan,
menemukan tenang di tengah riuh.

Namun sebuah pertanyaan datang, memakda kami membuka pintu yang sebetulnya ingin kami tutup rapat.
Dan sesuai ekspektasi, tanggapan yang muncul pun bukan yang kami butuhkan.
Bukan kata yang menenangkan,
melainkan kalimat yang menyesakkan dada.

Aku merasa disalahkan.
Seolah aku penyebab kesulitan orang yang paling kusayangi.
Seolah langkah-langkah yang kami ambil hanya kesalahan,
tanpa ruang untuk dipahami alasannya.

Kata demi kata terus mengalir,
dengan nada prihatin bercampur kecewa, sesekali muncul kepanikan.

Hidup kami (yang sebenarnya masih baik-baik saja) jauh dari kehidupan ideal menurut versinya, membuatnya gusar.
Dan perlahan, benang kusut yang sedang kami luruskan kembali ruwet, kembali sulit disentuh dengan sabar.

Andai penonton tahu caranya diam.
Andai penonton paham,
bahwa tak semua cerita butuh ulasan,
bahwa tak semua pertunjukan butuh komentar.

Terlebih, tiket untuk duduk di kursi itu pun tak pernah ia beli.

Wednesday, December 18, 2024

Sharing: Bayi Tidur di Kamarnya Sendiri

Hi fellow parents!

Sebuah kebahagiaan besar bagi saya ketika di usia 1 tahun 3 bulan, Hara akhirnya berhasil tidur di kamarnya sendiri dari malam sampai pagi, tanpa ditemani. Mungkin bagi sebagian orang tua ini hal biasa, tapi buat saya, ini termasuk one of my life-changing moments. Motherhood era terasa sedikit lebih ringan. Selain kualitas tidur, kuantitas juga tidak kalah penting bagi saya dan suami yang terbiasa tidur delapan jam sehari.

Jujur, kami sendiri tidak terlalu paham soal berbagai metode sleep training. Paling hanya mendengar sekilas dari podcast parenting yang sesekali kami tonton. Jadi, apa yang kami lakukan murni hasil dari wawasan terbatas, pengamatan, mikir bareng, dan eksperimen yang disesuaikan dengan kebutuhan anak kami.

Sense of urgency mulai muncul saat kami menyadari bahwa selama co-sleeping, kualitas tidur Hara justru kurang baik. Hal-hal kecil seperti ayahnya batuk atau ibunya bergerak karena mau ke toilet sering membuat Hara terbangun dan menangis, yang biasanya hanya bisa berhenti dengan disusui alias nen. Belum lagi efek samping ke saya: bolak-balik encok dan sakit leher sampai harus rutin panggil ibu urut. Akhirnya, tidur di kamar terpisah terasa seperti win-win solution bagi kami bertiga.

Apakah prosesnya mudah? Tidak susah, tapi juga tidak semudah itu. Ya, level intermediate lah. Setelah beberapa kali trial and error selama kurang lebih seminggu, kami melakukan beberapa iterasi dan penyesuaian sampai akhirnya Hara bisa tidur mandiri, nyenyak sampai pagi, tanpa menangis atau mencari ayah ibunya. Supaya tidak kepanjangan, saya langsung lompat ke hasil iterasi terakhir saja. Semoga bisa membantu teman-teman yang sedang menghadapi tantangan serupa.

Hara sudah tidur sendiri sekitar delapan bulan terakhir setelah kami rutin menerapkan beberapa hal berikut.

Pengkodisian anak sebelum tidur

  • Kami biasakan mandi air hangat sebelum bersiap tidur. Terinspirasi dari vlog orang Jepang yang saya tonton, di mana mandi malam sebelum tidur itu hal yang lumrah. Selain bikin otot lebih rileks, bonusnya juga soal kebersihan. Konsekuensinya, Hara biasanya skip mandi pagi dan baru mandi lagi siang hari setelah makan atau main sampai bau kecut.
  • Perut wajib kenyang sebelum tidur. Kami usahakan Hara puasa dua jam sebelum makan malam supaya merasa lapar, lalu diberikan menu yang paling besar kemungkinan dia suka. Makanan baru yang belum tentu diterima kami pindahkan ke jam makan lain, supaya ritual tidur tidak terganggu hal-hal yang belum pasti.

Persiapan kamar tidur anak

  • Kami tweak kamar agar lebih baby dan toddler friendly. Kamar yang dipilih posisinya di bagian belakang rumah, sehingga suara adzan subuh dari speaker masjid tidak terlalu kencang. Kami juga tidak menggunakan dipan untuk mengurangi risiko jatuh, memasang bed rail, serta menyingkirkan barang-barang yang berpotensi membahayakan dari jangkauan anak.
  • Kami selalu menaruh botol minum anti tumpah yang sedotannya ada pemberat, dalam kondisi terbuka dan di posisi yang sama setiap malam. Jadi kalau terbangun karena haus, Hara tinggal minum tanpa perlu cari-cari.
  • CCTV jadi penenang hati orang tua. Terlepas dari Hara benar-benar paham atau tidak, saya tetap menjelaskan bahwa ayah dan ibu bisa memantau dari kamera. Saya juga sempat mendemokan aplikasinya dan bilang kalau butuh bantuan, kami bisa langsung datang dari kamar seberang. Saya pribadi memberi batas lima menit saat Hara menangis. Kalau lebih dari itu, baru saya datang. Tapi sejauh ini, kalaupun menangis, biasanya tidak sampai lima menit dan dia bisa tidur lagi sendiri.
  • Beberapa boneka kesayangan kami letakkan di dekatnya supaya dia tidak merasa sendirian. Beberapa kali terlihat di CCTV, Hara memeluk boneka, minum, lalu tidur lagi.
  • Kami pasang AC reflector dan mengatur suhu agar tidak terlalu dingin, yang penting anak tidak kepanasan. Sempat mencoba sleep sack seperti saat masih co-sleeping, tapi dari pengamatan CCTV, Hara justru terlihat kurang leluasa bergerak dan jadi rewel.
  • Sebagai tambahan, kami meletakkan air purifier dekat tempat tidurnya. Selain membantu sebagai white noise, lumayan juga buat membersihkan udara. Halo sesama warga Jabodetabek yang akrab dengan polusi.

Sekian pengalaman dari anak saya. Disclaimer, sampai sekarang Hara masih perlu nen untuk bisa mulai tidur. Sejauh ini belum jadi masalah karena saya stay-at-home mom (yang terbuka untuk kerja freelance, ya kak 🙏). Mungkin ini akan jadi tantangan baru saat proses menyapih nanti. Kalau ada yang punya tips menyapih anak, boleh banget berbagi. Kami juga masih terus berikhtiar supaya Hara bisa konsisten tidur jam delapan malam, walaupun praktiknya kadang masih suka geser sedikit.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Jangan lupa, setiap anak punya kecerdasan dan tantangannya masing-masing. Ada yang unggul di kemandirian dan sosial, ada yang di bahasa, motorik kasar, dan lain-lain. Apa yang bekerja di Hara belum tentu cocok di anak lain. Jadi silakan sesuaikan dengan kondisi masing-masing, dan selamat mencoba.

Saturday, March 16, 2024

Menjadi Ibu (Rumah Tangga)

Halo, kisanak!

Hampir lima tahun sejak terakhir kali saya menulis di sini. Banyak hal berubah, dan jujur saja, saya masih berusaha merapikannya di kepala. Semoga menulis bisa membantu saya mengurai satu per satu.

Setahun terakhir, pusat dunia saya dan suami bernama Hara. Anak yang Allah titipkan setelah empat tahun penantian. Usianya baru satu tahun, tapi kehadirannya mengubah cara saya berdoa, berpikir, dan memandang hidup. Doa-doa saya kini lebih banyak tentang dirinya. Saya ingin hadir penuh, menjadi ibu yang baik, dan membersamainya di setiap fase tumbuh kembangnya.


Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang saya syukuri. Saya masih punya opsi, dan suami mendukung keputusan apa pun yang membuat saya tenang. Meski sesekali rindu berkarya dan menghasilkan uang sendiri, saya tidak bisa membayangkan hari-hari tanpa kehadiran saya untuk anak. Di masa golden age ini, saya memilih hidup yang lebih sederhana dengan waktu dan perhatian yang utuh untuknya.

Saya merasa damai. Namun di saat yang sama, ada ruang kosong yang sulit dijelaskan.

Saya bertanya pada diri sendiri, apakah ini tentang aktualisasi diri, tentang rasa berdaya, atau sekadar proses berdamai dengan perubahan identitas. Melihat teman-teman berkembang melalui pekerjaan, pendidikan, dan pencapaian lain, terkadang saya bertanya, apakah saya tertinggal. Padahal saya tahu setiap orang punya jalannya masing-masing.

Di sisi lain, saya juga kerap merasa bersalah sebagai ibu. Milestone yang belum tercapai, perkembangan yang terasa lambat, hal-hal kecil yang membuat saya mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Fokus saya nyaris penuh untuk keluarga, sehingga keraguan itu sering terdengar lebih keras dari seharusnya.

Di tengah rasa syukur dan ketenangan ini, saya menyadari satu hal. Saya perlu menemukan cara untuk tetap berdaya tanpa mengorbankan kedamaian yang sudah saya miliki. Menjadi diri sendiri, sekaligus menjadi ibu.

Duh, maaf ya jadi terkesan mengeluh. Saya bersyukur kok. Tapi kan... ibu juga manusia, punya rasa punya hati~