Saturday, September 16, 2017

Go Overseas to Work

Pic source: here

Hi Bro Sis! Long time no post. How's life? I hope you are doing well. Mine? I am pretty good, but currently having such a kinda mixed feeling: excited, blessed, anxious, and nervous are all at once.

Next month is going to be challenging because I am going to wander to another place that is a bit far and quite different than before. Oh how I love Jogja and Bandung so much, so I hope this another-place will be also another 'home' for me as well.

I keep wondering. Can I adapt to a new work environment with so many diversities? Can I keep up with those great colleagues? Can I voice what's on my mind easily to them?

Despite those thoughts, I asked my mentor Russel how to face it and he gave me some tips. Here they are.
  1. Be confident. They hired you because they value you. Every new beginning can have challenges, but you'll be able to succeed.
  2. Remember that many of the others are also not native English speakers. Some are but probably most are not. You're in the sane boat.
  3. If you are going to make a formal presentation, be sure to rehearse it in advance, in front of a friend or coworker, or at least in front of a mirror.
  4. Even if it's not a formal presentation, but you are planning ahead to put your ideas forward, practice saying them out loud. Rehearse.
  5. If you are in a meeting or discussion and want to add something without previous rehearsal, begin your comments with some bridge phrase like: "I want to build on that idea by suggesting..." or "We could make that even better by..." or more negatively: "Here's another way to look at it..." or "It might be more effective to..."
Thank you Russel for the ideas.
Wish me luck and I hope this article will be helpful for you, too.

Saturday, August 26, 2017

Empat Temperamen Manusia

Pic source: here

Halo, lama nggak nulis setelah wadah tulisan pindah ke caption instagram dan biasa justifikasi pakai istilah writer's block yang mana alasan sesungguhnya adalah malas. Pertama-tama, saya mau update kehidupan, nih. Selain menjalani kehidupan sehari-hari sebagai karyawati startup, di akhir pekan terkadang saya menghabiskan waktu di tiga komunitas: Jendela, Nirwasita, dan Matahari.

Singkat cerita, Jendela adalah komunitas yang memiliki visi meningkatkan budaya membaca pada anak, Nirwasita semacam study group dengan goal tiap individu anggotanya menjadi pribadi yang lebih mawas diri, dan Matahari adalah komunitas yang saya bangun bersama teman-teman dengan menggabungkan ide dari komunitas sosial lain yang pernah kami ikuti, yang kemudian kami bawa di sebuah panti sosial anak.

Beruntung, karenanya saya jadi belajar banyak hal baru belakangan ini. Saya merasa bersyukur sekali, keingintahuan saya yang besar terhadap ilmu psikologi dan parenting (ehem!) bisa terfasilitasi dari kelas edukasi maupun praktik langsung yang saya jalani selama bergabung bersama tiga komunitas tadi. Meski masih awam, saya mau coba share sedikit ilmu yang saya dapat dari Kak Agie, ya. Kak Agie ini seorang kakak, ibu rumah tangga, sekaligus psikolog yang saya anggap sebagai mentor di Nirwasita. Kala itu beliau berbaik hati membagikan ilmunya terkait empat temperamen manusia.

***

Menurut penuturan Kak Agie, pada dasarnya setiap manusia memiliki empat temperamen yang sesuai dengan kadar cairan dalam tubuhnya. Temperamen ini ada yang bawaan lahir, juga ada yang dibentuk dari lingkungan sekitar dan pola asuh. Empat temperamen tersebut adalah:

1. Sanguine

Elemen: air
Keywords: "Trus kita mau ngapain?"
Temperamen pemicu kepribadian yang hidup

Sanguine mewakili kadar darah dalam tubuh manusia. Biasanya mereka yang dominan sanguine, orientasinya hidup di masa sekarang, mereka juga tidak memikirkan sesuatu terlalu jauh dan dalam.

Sifat utama: optimis, selalu ceria, berantakan, mudah terdistraksi, mudah adaptasi, energetik, cerewet, gerakannya dinamis, impulsif, pelupa, dangkal, sosialis, ingin selalu dikelilingi orang, banyak ide namun biasanya tidak tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

Sisi negatif: orang yang dominan sanguine sukanya senang-senang saja, jadi tipe ini agak sulit jika diberi tanggung jawab besar karena dia cenderung pelupa dan tidak berpikir terlalu dalam. Cocok jadi tim hore dan meramaikan tongkrongan.

2. Choleric

Elemen: api
Keywords: "Ayo pakai cara gue"
Temperamen pemicu kemarahan

Choleric mewakili cairan empedu kuning dalam tubuh. Mereka biasanya para pemimpin, kalo choleric akut biasanya cenderung otoriter dan super bossy. Bisa jadi ditemukan pada anak pertama.

Sifat utama: trendsetter, suka memimpin, praktis, strategis, sulit disanggah pendapatnya, keinginan kuat, tidak suka ba bi bu, percaya diri tinggi, berorientasi pada tujuan dan masa depan, motivasi tinggi, pionir, kurang terorganisir, tidak detail namun langkah jelas, mandiri, praktis, taktis, strategis, cepat ambil kesimpulan, tidak mudah menyerah.

Sisi negatif: kalau cholericnya terlalu dominan menjadi tidak penyabar, emosi mudah tersulut, cenderung egois.

3. Melancholic

Elemen: tanah
Keywords: "Kok bisa gitu ya?"
Temperamen pemicu stres

Orang yang dominan melancholic sangat perasa--secara emosi, spiritual, fisik. Tipe melancholic sangat membutuhkan sentuhan agar merasa nyaman.

Sifat utama: selalu berhati-hati, paling sadar diri dan sekitar, sensitif, analitis, perhitungan, mudah menangis, pemikir yang dalam, detail, pendendam (hati-hati makanya), sisi artistik tinggi, orientasi pada masa lalu, cepat mengembangkan diri, reflektif, pesimistis, skeptis, mood tidak stabil.

Sisi negatif: self-centered, cenderung bergumul pada satu masalah yang ujung-ujungnya mereka menjadi tidak menemukan solusi.

4. Phlegmatic

Elemen: udara
Keywords: "Kita harus ya ngelakuin itu?"
Temperamen pemicu kelesuan

Phlegmatic ini mewakili lendir hitam dalam tubuh. Mereka yang dominan phlegmatic suka memendam sesuatu dan sulit untuk mencari sahabat, karena membutuhkan waktu lama hingga akhirnya mereka percaya dengan orang lain.

Sifat utama: tenang, selalu terkondisi, tidak suka buru-buru, menghindari konflik, suka berkompromi, butuh kenyamanan, pemalas, suka keteraturan, tidak menyukai tantangan, tidak punya kepastian, keras kepala pada diri sendiri, sulit diatur.

Sisi negatif: jika seseorang phlegmaticnya dominan dan tidak diimbangi dengan lingkungan sekitar yang mendukung, dia bisa memendam semua masalah yang dimiliki dan lama-lama menjadi bom waktu. Kak Agie sempat bilang, kebanyakan psikopat itu dominan phlegmatic yang dari kecil sulit mengungkapkan apa yang dia rasakan.

***

Dari yang saya dengar dan pelajari, sebenarnya setiap individu memiliki empat temperamen ini dalam dirinya. Namun biasanya ada beberapa yang dominan, bisa satu, dua, atau tiga. Bagaimana jika keempat-empatnya seimbang? Tentu bisa. Biasanya yang begitu dimiliki oleh Sufi.

Agar mudah dipahami, ada beberapa analogi yang menggambarkan keempat temperamen ini.

1. Apa yang akan dilakukan oleh masing-masing temperamen jika dihadapkan dengan sebuah batu di tengah jalan?

- Si dominan sanguine akan terus berjalan tanpa menyadari keberadaan batu tersebut.
- Si dominan choleric akan berusaha untuk menyingkirkan batu tersebut agar tidak menghalangi jalannya, kemudian melanjutkan perjalanan. 
- Si dominan melancholic akan bertanya-tanya dari mana asalnya batu tersebut, mengapa bisa ada batu di tengah jalan, dan kemudian menjadi bingung harus berbuat apa.
- Si dominan phlegmatic sadar akan keberadaan batu tersebut, namun dia tidak peduli dan terus melanjutkan perjalanan.

2. Dalam sebuah pertunjukan, bagian apa yang akan diperani oleh masing-masing temperamen?

- Si dominan sanguine akan menjadi aktor dan berada di atas panggung. Ia ekspresif, senang menjadi pusat perhatian, dan diberi tepuk tangan. 
- Si dominan choleric akan menjadi sutradara. Ia akan membuat segala sesuatu berjalan seperti rencananya. Ia akan merasa hidup ketika diberi tanggung jawab besar.
- Si dominan melancholic akan menjadi penulis naskah. Tidak ada yang bisa menyaingi kedetailan, imajinasi, dan jiwa seninya.
- Si dominan phlegmatic akan menjadi kru. Sebagai pribadi yang menyenangi comfort zone, ia tidak akan keberatan untuk melakukan tanggung jawab tersebut selama tidak diminta untuk menjadi pengambil keputusan.

***

Setelah mempelajari empat temperamen ini, meski belum mendalam, manfaat yang saya rasakan secara pribadi adalah menjadi lebih bisa mengenali diri sendiri dan orang lain. Untuk diri sendiri, saya merasa lebih mawas dan reflektif--terutama jika sisi negatif temperamen sedang kumat. Untuk orang lain, saya belajar untuk bisa lebih memaklumi perbedaan dan bahwa tidak semua orang bisa diberi treatment yang sama. Dua minggu lagi ada kelas tambahan untuk mempelajari kombinasi temperamen, untuk rangkumannya nanti saya update lagi ya di blog ini.

Oh iya, Kak Agie juga turut menilai temperamen saya. Ia bilang saya memiliki tiga dominan: sanguine, melancholic, dan choleric. Ssst, sebenarnya saya ini sanguine manipulatif karena menurut saya itu tipe yang paling menyenangkan, jadi itu temperamen yang saya tunjukkan dan gunakan untuk bersosialisasi. Sementara choleric saya dapat dari keluarga dan lingkungan (untuk bertahan hidup), serta melancholic sepertinya sudah bawaan lahir. Hahaha.

Kalau kamu kira-kira dominan yang mana?

Saturday, November 5, 2016

Sajak Pagi

Pemandangan favoritku setiap pagi :')

***

Hai, sudah melek lagi? Selamat pagi!

Coffee? Tea? Ini juga ada roti. Manis sekali, habis diberi selai stroberi. Eh, ingin nasi? Sini sini, ku suapi sambil kau memakai kaos kaki. Risih? Ini efisiensi! 

Amboi, pagi ini kau melamun lagi. Pahit kok diratapi? Kenapa seakan kau menikmati? Seakan menyiksa hati berubah status menjadi hobi.

Sedih. Melihat kau hatiku pilu pedih. Ini terjadi setiap hari. Ku amati kau sibuk sekali--menanti takdir tentatif: yang pergi sudi kembali.

Wahai kekasih hati, sesekali tengoklah kemari. Beri tahu apa yang kau cari. Yang rinci, agar celah itu bisa ku cari.

Satu yang pasti, tiap kau berkecil hati, ingat aku selalu di sini.

Kini hingga nanti nanti, diri ini siap berbagi luka hati dengan perasaan yang berseri.

Kau tanya kenapa mesti segala berseri? Retoris. Kan kau tahu aku jatuh hati.

Iya sih, kau tak peduli.

Tapi... Tapi...

Monday, October 31, 2016

Sedang Tidak Bermain-Main

Hasil gambar untuk work girl pinterest
Gambar pinjam dari sini

Menghabiskan waktu dari Senin hingga Sabtu.
Bermain dan menegosiasikan harga yang kerap kali teracuhkan.
Keras membantu, Aku bersandiwara dengan penghargaan yang sengaja Aku rangkai diam-diam.
Jam dinding di kantor menamparku tepat ketika Aku mulai gelisah tentang dimana tempat untuk membuang beban dan menyenderkan ego yang belum juga padam.


*hadiah puisi dari Teti Diana :)

Saturday, September 3, 2016

Turning 25

Now I'm not a girl, not yet a woman.
Hi a quarter life crisis!
Money can be a serious issue if not handled properly.
Should I feel weird about being single?
Set more goals and evaluate the old ones.
Start developing some good habits.
Be mature.
Be mature.
Be mature.

Be.
Mature.

"Maturity has more to do with what types of experiences you've had, and what you've learned from them, and less to do with how many birthdays you've celebrated" (Unknown)