Tinggal Tepok-tepok, Katanya
Kalau bisa balik ke masa kecil, ada beberapa hal yang mungkin akan saya lakukan secara berbeda. Saya nggak akan ngumpet di kolong meja lagi waktu nggak mood ikut pelajaran olahraga. Saya akan ikut FOMO ketika anak-anak tetangga main badminton dan basket di depan rumah. Saya akan explore olahraga ini itu sampai ketemu yang (surprisingly) saya mampu tekuni dengan hati ringan dan memohon ke ibu saya untuk mendaftarkan anaknya yang kurang lincah ini untuk les di cabor tersebut. Saya nggak akan pura-pura mens ketika ada pelajaran renang. Kalau saya menyukai olahraga, mungkin saya nggak akan buang-buang uang untuk membership gym hanya untuk kemudian menjadi donatur seperti yang sempat beberapa kali saya lakukan ketika dewasa.
Memang dari dulu saya nggak sporty. Ada trauma masa kecil yang kayaknya ikut berkontribusi. Waktu kecil, saya pernah lagi asyik nonton lomba voli di lapangan dekat rumah, lalu tiba-tiba sebuah bola menampar muka saya dengan keras. Saya nahan nangis karena semua mata lihat ke arah saya. Ada orang dewasa di dekat saya yang komentar dengan heboh, "Eh mukanya merah banget, kasihan banget anaknya Pak Heri. Hayolo nangis lho anak orang". Duh sakitnya bukan main. Malunya apalagi. Entah kenapa kejadian yang sebenarnya cukup sepele itu membuat saya punya hubungan yang kurang baik dengan olahraga sampai sekarang. Apalagi sama olahraga yang ada bolanya.
Masalahnya, baru di umur sekarang saya sadar kalau ternyata kemampuan olahraga itu bukan cuma soal kesehatan atau biar badan langsing kayak barbie atau berotot kayak Squidward versi ganteng. Belakangan, olahraga tuh berasa lekaaat banget sama kehidupan sosial. Seperti ketemu teman lama, kenalan sama teman baru bisa banget lewat jalur mabar tenis, padel, badminton, dan sebagainya. Semakin suka olahraga, maka semakin banyak teman. Dan saya mulai merasakan sendiri betapa nggak enaknya ketika nggak bisa ikut. Andai guru olahraga saya kasih motivasi soal ini dulu, mungkin saya bisa jadi sedikit lebih rajin 😋
Beberapa kali menolak ajakan, sampai akhirnya nggak ada yang ngajakin lagi. Kemungkinan besar mereka mengira saya nggak tertarik. Tapi, ng...... sebenarnya saya mau. Saya pengen ikut. Pengen nimbrung. Pengen punya kegiatan bareng teman-teman. Saya nggak ansos. Saya cuma nggak sporty aja.
Saking pengennya bisa ikut tapi enggan ngerepotin, saya sempat kepikiran untuk nabung, sewa lapangan sendiri dan coach-nya supaya bisa belajar padel sampai percaya diri buat mabar. Tapi setelah dipikir-pikir, kok hati saya juga nggak seingin itu melakukannya. Seperti biasa, saya mulai bingung sendiri. Haruskah saya memaksa diri belajar sesuatu yang sebenarnya nggak terlalu saya suka hanya supaya bisa ikut bersosialisasi?
Lalu saya jadi ingat satu hal: saya suka banget karaoke. Saya memang introvert yang sering takut mingle dengan orang yang nggak terlalu dekat. Tapi kalau diajak karaoke, saya mau. Siapa pun yang ngajak. Saya bahkan pernah datang sendirian ke event nyanyi bareng yang diadakan sebuah komunitas.
Ada beberapa momen membanggakan yang saya berencana ceritakan ke anak cucu. Sewaktu kerja di SG dulu, saya pernah ikut karaoke tim lain. Saya nggak kenal-kenal amat sama mereka, tapi saya akhirnya berhasil mingle karena nyanyi Tian Mimi di depan teman-teman China mainland dan Koi Mil Gaya di depan teman-teman India saya. Beberapa dari mereka merekam, memuji pronunciation, dan tepuk tangan yang kencang seolah bilang, "Wawasan mbak-mbak Indonesia ini luas sekali, ya!", tanpa mereka tahu kalau dua lagu itu lagu wajibnya orang sini. Uh, bangga betul.
Yang lucu, dulu saya sering heran dan nggak berempati sama teman yang nggak pernah mau diajakin karaoke. Nggak jarang saya agak maksa mereka. Dalam hati saya mikir, "Kenapa sih nggak mau ikut? Seru banget loh karaoke tuh!". Sampai sore tadi saya melihat percakapan di grup WhatsApp komplek yang baru saja bikin padel club.
👨 Bapak A: "Newbie boleh ikutan nggak ya?"
👱 Bapak B: "Ikut aja, tinggal tepok-tepok doang, Pak."
Saya langsung ketawa. Oalah! Ternyata selama ini saya adalah Bapak A. Dan mungkin, dulu ketika saya ngajak teman karaoke dan mereka kekeuh menolak, saya adalah bapak B. Saya menganggap sesuatu yang buat saya effortless dan menyenangkan sebagai sesuatu yang seharusnya juga effortless dan menyenangkan buat orang lain. Padahal belum tentu.
Buat saya, karaoke itu tinggal datang, pilih lagu, pegang mic, nyanyi, selesai. Tapi buat orang lain, mungkin ada rasa malu, nggak pede, takut suaranya ganggu, atau memang ya... nggak suka aja. Persis seperti saya melihat orang main padel dan berpikir, "Seru juga ya. Pengen ikut." Tapi begitu disuruh turun ke lapangan, mungkin yang ada di kepala saya malah, "Aduh, takut banget jadi beban tim." Mungkin ini juga yang selama ini saya lewatkan ketika melihat orang menolak ajakan.
Nggak semua orang yang bilang enggak lagi nggak mau berteman. Nggak semua orang yang nggak ikut berarti nggak tertarik. Bisa jadi mereka sebenarnya pengin ikut, tapi ada sesuatu yang membuat mereka belum bisa. Atau mungkin memang sesederhana mereka nggak suka. Semuanya valid.
Saya belum tahu apakah saya akhirnya akan belajar padel atau tetap menjadi manusia yang lebih nyaman memegang mic daripada raket. Tapi seenggaknya saya sekarang jadi tahu satu hal: Sesuatu yang terasa mudah dan menyenangkan bagi kita, belum tentu terasa begitu bagi orang lain.
Mungkin, sebelum bertanya, "Kenapa sih nggak mau ikut?", ada baiknya kita berhenti sebentar dan ingat bahwa setiap orang punya "karaoke"-nya masing-masing.
---
P.S. kurang penting: walaupun nggak sporty, alhamdulillah saya masih enjoy jalan kaki 5000+ steps keliling mall, sepedahan sore bareng anak 5x muterin komplek, dan zumba pakai lagu upbeat kpop.
Comments
Post a Comment