Posts

Showing posts with the label Fiction

Sajak Pagi

Image
Pemandangan favoritku setiap pagi :') *** Hai, sudah melek lagi? Selamat pagi! Kopi pahit? Teh melati? Ini juga ada roti. Manis sekali, habis diberi selai stroberi. Eh, ingin nasi? Sini sini, ku suapi sambil kau memakai kaos kaki. Risih? Ini efisiensi!  Amboi, pagi ini kau melamun lagi. Pahit kok diratapi? Kenapa seakan kau menikmati? Seakan menyiksa hati berubah status menjadi hobi. Sedih. Melihat kau hatiku pilu pedih. Ini terjadi setiap hari. Ku amati kau sibuk sekali--menanti takdir tentatif: yang pergi sudi kembali. Wahai kekasih hati, sesekali tengoklah kemari. Beri tahu apa yang kau cari. Yang rinci, agar celah itu bisa ku isi. Satu yang pasti, tiap kau berkecil hati, ingat aku selalu di sini. Kini hingga nanti nanti, diri ini siap berbagi luka hati dengan perasaan yang berseri. Kau tanya kenapa mesti segala berseri? Retoris. Kan kau tahu aku jatuh hati. Iya sih, kau tak peduli. Tapi... Tapi...

Surat Cinta

Image
Kami adalah ratusan saudara kembar yang akur dan baik Memang bukan kembar identik Namun serupa dan sama-sama cantik Masing-masing kami punya cerita berbeda dan daya magis Diciptakan dari hati lugu nan tulus seorang gadis Yang ditulisnya sambil tersenyum dan kadang pula menangis Tahukah kamu kalau kami anak rumahan yang romantis Betah tinggal di laci meja diletakkan bertumpuk seakan berbaris Dan tidak pernah pergi sejak awal selesai ditulis

Unsubscribe

Image
She: You stopped loving me. Why? He: Why are you asking? You just unsubscribed my love.

Saya dan Tompel

Image
#NowPlaying Buaian - Danilla Riyadi Seorang anak berbaju seragam TK tertawa ketika melihat saya yang kala itu sedang mengantri di toilet mall. Ia tertawa sambil berseru, "Tompel! Tompel! Hahaha". Saya ikut tertawa. Sepertinya ibunya sedang ada di dalam. Dua orang gadis cantik memandang saya iba, dia kira ada hati yang terluka mendengarnya. Tidak, tidak sama sekali, anak itu masih kecil dan setidaknya saya bisa membuatnya tertawa. "Salep yang Ibu kasih kemarin rutin dipakai kan? Gimana? Sudah pudar tompelnya?", suara Ibu di telepon membuyarkan lamunan saya. "Ibu lihat sendiri aja ya, bulan depan Nia pulang." "Tapi dipakai kan? Ingat umurmu sudah 27, mbok lebih peduli sama penampilan. Sekali-kali ndak apalah tabunganmu disisihkan sedikit buat ke dokter. Pelit banget sih anak Ibu yang manis ini. Ndak kasihan kamu lihat Ibu ndak sabar kepingin cepet-cepat gendong cucu?" "Iya nanti kalau Nia sempat ya, Bu" "Yo wis, jangan lupa di...