Wawancara dengan Mama Nina
Mama Nina, superhero keluargaku. Di umur nyaris kepala 5-nya ini, beliau masih sangat aktif dan lincah demi keluarga yang dicintainya. Berganti kendaraan dari angkot satu ke angkot lain. Menjual suara, menyebarkan ilmu kepada murid-muridnya di sekolah dan tempat privat. Aku sungguh malu menceritakan ini, karena di umurku sekarang aku belum mampu meringankan beban orang tua karena masih berstatus mahasiswi dan belum bekerja--sebenarnya ingin tapi belum diizinkan karena diminta beliau untuk fokus skripsi terlebih dahulu. Mama punya cita-cita membuka tempat kursus Bahasa Mandarin sendiri, katanya biar ndak perlu mondar mandir kesana kemari. Aku pun mengamini dalam hati dan bertekad menjadi sukses untuk membayar kerja kerasnya kelak. Meski Mama bekerja, beliau selalu hadir 100% untuk aku dan ketiga adik laki-lakiku. Sesibuk apapun Mama, kami tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang sedikitpun. Walaupun aku dan kedua adik tidak tinggal di rumah sejak kuliah, tetapi komunikasi kami t...